Membeli rumah dari developer memang lebih mudah. Hanya dengan membayar
sejumlah uang muka, Anda sudah dapat menempati rumah yang diinginkan.
Di
sisi lain, ada pula orang yang tak puas jika membeli rumah dari
pengembang. Alasannya beragam, mulai tak cocok dengan bentuknya hingga
kualitas bangunan yang dianggap kurang memuaskan.
Bagi Anda yang ingin membangun rumah impian di atas lahan milik pribadi, ada empat hal yang mesti diperhatikan:
Dana (Budget)
Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah dana. Anda harus menyesuaikan keinginan dengan budget yang
dimiliki. Jika dana masih terbatas, tak ada salahnya Anda membangun
rumah tumbuh. Artinya, rumah dapat dikembangkan ke samping, ke
depan-belakang, atau ke atas jika uang sudah terkumpul kelak.
Selera (Taste)Sesuaikan
rumah dengan selera pribadi Anda sebagai pemilik. Misalnya, jika Anda
menyukai rumah bergaya minimalis, maka buat konsep yang tak lari dari
gaya minimalis. Perlu diingat, pengejawantahan dua atau lebih konsep
dalam satu rumah, terkadang justru memperburuk tampilan rumah Anda.
Kebiasaan (Habit)Sesuaikan
rumah dengan kegiatan Anda sejak bangun tidur hingga tidur di malam
hari. Bila Anda banyak berkumpul di ruang keluarga atau kamar tidur,
maka prioritaskan ukuran dan fasilitas di ruang tersebut. Atau jika Anda
suka berlama-lama di kamar mandi, maka buat ruang tersebut senyaman
mungkin agar Anda betah di dalamnya.
Sebaliknya, jika Anda tidak
suka menerima tamu, maka tidak perlu membuat ruang tamu atau kamar tidur
khusus tamu, karena sudah barang tentu akan mubazir.
Tanya Pakar (Ask The Expert)Jika
Anda memiliki dana lebih, tak ada salahnya jika menggunakan jasa
arsitek untuk membuatkan rumah sesuai keinginan Anda. Arsitek juga bisa
memberi petunjuk untuk menjembatani antara keinginan dengan kepantasan
bagi tampilan rumah Anda.
Ada kalanya barang-barang yang mahal
tidak cocok digabungkan dalam satu ruangan, karena berbeda konsep.
Biasanya sang arsitek akan memberi guide bagi Anda. Akan tetapi—terlepas
dari pantas atau tidaknya—pemilik rumahlah yang memutuskan.
Kamis, 10 Januari 2013
Tips Bangkit Dari Kegagalan
1. Jangan anggap kegagalan itu tak pernah terjadi.
Orang cenderung merasa takut mengakui kegagalan. Padahal dengan mengingkari kegagalan itu justru menimbulkan masalah baru seperti stres dan menunda pengobatan untuk bangkit.
Orang cenderung merasa takut mengakui kegagalan. Padahal dengan mengingkari kegagalan itu justru menimbulkan masalah baru seperti stres dan menunda pengobatan untuk bangkit.
2. Hindari memaafkan diri sendiri.
Hal yang bisa memperbaiki kegagalan adalah berhenti memaafkan segala kegagalan dan mulailah fokus pada tujuan-tujuan yang lebih produktif. Bill mengibaratkan, ketika masih remaja ia homeless dan peminum. Dan ketika itu ia selalu menganggap semua itu bukan kesalahannya. Padahal itu cara yang salah karena tak ada hal produktif yang bisa ia kerjakan.
Hal yang bisa memperbaiki kegagalan adalah berhenti memaafkan segala kegagalan dan mulailah fokus pada tujuan-tujuan yang lebih produktif. Bill mengibaratkan, ketika masih remaja ia homeless dan peminum. Dan ketika itu ia selalu menganggap semua itu bukan kesalahannya. Padahal itu cara yang salah karena tak ada hal produktif yang bisa ia kerjakan.
3. Jangan campur-adukkan antara tujuan yang gagal dan orang yang gagal.
Kadang orang menyalahkan dirinya sendiri atas kegagalan-kegagalannya, padahal itu justru membangun mental negatif. Sebaiknya, daripada kita menganggap kita gagal, lebih baik tanyakan pada diri kita bagaimana kita bisa memperbaikinya.
Kadang orang menyalahkan dirinya sendiri atas kegagalan-kegagalannya, padahal itu justru membangun mental negatif. Sebaiknya, daripada kita menganggap kita gagal, lebih baik tanyakan pada diri kita bagaimana kita bisa memperbaikinya.
4. Ingat, kegagalan bukan hanya dialami kita.
Orang yang gagal meraih tujuannya terjadi sepanjang waktu. Tak ada orang yang selalu sukses sepanjang hayatnya. Jadi, gagal itu milik semua orang!
Orang yang gagal meraih tujuannya terjadi sepanjang waktu. Tak ada orang yang selalu sukses sepanjang hayatnya. Jadi, gagal itu milik semua orang!
5. Fokuskan pada pelajaran kegagalan itu.
Bill memberi contoh dirinya sendiri. Tak banyak orang yang berani mengatakan bahwa kegagalan bisnis yang menyebabkan dirinya bangkrut karena kehilangan sampai US$ 3 miliar (Rp 27 triliun) sebagai bahan pelajaran. Namun ia yakin itu sebagai pelajaran yang berharga. Setelah itu ia fokus pada masa depannya. Dari sanalah ia pelan-pelan bangkit dan sekarang bisnisnya bernilai sampai US$ 100 miliar.
Bill memberi contoh dirinya sendiri. Tak banyak orang yang berani mengatakan bahwa kegagalan bisnis yang menyebabkan dirinya bangkrut karena kehilangan sampai US$ 3 miliar (Rp 27 triliun) sebagai bahan pelajaran. Namun ia yakin itu sebagai pelajaran yang berharga. Setelah itu ia fokus pada masa depannya. Dari sanalah ia pelan-pelan bangkit dan sekarang bisnisnya bernilai sampai US$ 100 miliar.
Langganan:
Postingan (Atom)
