Menciptakan ruangan dengan udara yang berkualitas sebenarnya bukan hal
yang sulit. Selain itu, manfaatnya juga cukup besar untuk kesehatan para
penghuninya.
Yuwono Imanto, Direktur PT Propan mengatakan, ada
beberapa poin penting yang harus diperhatikan dalam menciptakan atau
membangun ruangan dengan udara yang berkualitas. Hal ini berkaitan
dengan strategi meminimalkan sick building syndrome (SBS).
Poin
pertama, ruangan tersebut harus terhindar dari bahan berbahaya,
diantaranya memiliki kandungan VOC yang rendah dan tidak mengandung
bahan yang bersifat karsinogenik. Yuwono menjelaskan, VOC (volatile organic compound)
adalah senyawa yang mengandung karbon yang menguap pada tekanan dan
temperatur tertentu atau memiliki tekanan uap yang tinggi pada
temperatur ruang.
“VOC mudah menguap pada suhu tertentu, jika
terhisap oleh orang-orang yang ada di ruangan dalam jangka waktu lama
pasti akan berbahaya. VOC ini biasanya ada di pewangi ruangan atau cat.
Jadi jangan terlena dengan wangi harum yang ditawarkan pewangi ruangan
ataupun cat tertentu,” kata Yuwono di sela Seminar Green Healthcare di Jakarta, hari ini (29/11).
Poin
kedua yang harus diperhatikan adalah membersihkan ruangan secara
berkala. Alat-alat dan cairan pembersih pun harus diperhatikan.
“Khususnya cairan pembersih yang digunakan, itu harus aman dari
kemungkinan mengontaminasi ruangan,” ujar Yuwono.
Untuk itu,
detail bahan pembuat cat, pewangi ruangan dan cairan pembersih juga
harus kita perhatikan. Yuwono menganjurkan agar menghindari produk yang
mengandung formaldehyde dan VOC. “Di takaran tertentu memang
tidak akan membahayakan, tapi jika tanpa sadar terkonsumsi terus-menerus
maka akan berbahaya bagi kesehatan,” ungkapnya.
Jumat, 14 Desember 2012
Optimalkan Energi, Perhatikan Atap Rumah
Dalam arsitektur sebuah rumah, atap memiliki peran penting untuk menjaga
rumah dari terpaan panas dan hujan. Dalam kaidah budaya, setiap suku
memiliki bentuk atap rumah yang khas, seperti atap melengkung di rumah
tradisional Tionghoa atau atap khas rumah joglo.
Menurut Sidhi Wiguna Teh, bentuk atap melengkung di tradisional Tionghoa sebenarnya tidak berpengaruh pada aliran energi. “Hal itu hanya berkenaan pada adat dan budaya,” kata pakar feng shui ini.
Pengaruh atap terhadap feng shui sebuah rumah, jelas Sidhi, lebih disebabkan bentuk dan proporsinya. Jika proporsi atap cukup dominan, maka pengaruhnya lebih besar.
Atap rumah yang paling bagus menurut kaidah feng shui adalah bentuk yang teratur dan rapi. Contohnya, bila atap rumah berbentuk limas, bentuknya tidak memiliki potongan—jika dilihat dari atas, berbentuk persegi panjang. Lebih ideal perbandingannya lebar dan panjangnya adalah 2:3. Bentuk denah rumah yang bagus, adalah persegi atau huruf “O” yang memiliki patio (ruang di dalam bangunan yang disisakan untuk kebutuhan pencahayaan dan sirkulasi udara-red) yang membuat cahaya matahari dan air hujan masuk ke dalam rumah. Sementara itu, atap rumah berbentuk lingkaran menurut feng shui tidak bagus, karena akan menyebabkan energi menjadi tidak terfokus dan terpecah.
Atap berbentuk seperti huruf “L” juga kurang ideal, karena ada missing sector, papar Sidhi. Untuk mengakalinya, atap bisa ditutup dengan talang beton keseluruhan, kemudian di atasnya dibuat atap yang tetap berbentuk persegi panjang. Konsekuensinya, luas atap lebih sempit.
“Atap juga bisa lebih mengoptimalkan komposisi energi rumah. Salah satunya dengan meninggikan atap pada lokasi ‘empat kotak bagus’—yang dihitung berdasarkan kua,” jelas Sidhi.
Sebaliknya, jika bentuk atap tidak baik dan kurang proporsional, akan memberi efek negatif terhadap penghuni rumah. “Saya pernah melihat sebuah rumah dengan atap yang ditembus pohon. Hal ini tentu membawa kesialan bagi penghuni rumah,” tutur pendiri Indonesia Feng Shui Architect ini.
Sudut kemiringan atap juga tidak boleh terlalu runcing atau terlalu landai. “Sudut kemiringan yang ideal adalah sekitar 30 derajat—sementara arsitek biasanya membuat sudut kemiringan antara 22,5 – 30 derajat,” kata Sidhi.
Sidhi melanjutkan, pemilihan bahan untuk atap, tergantung pada fungsi bangunan. Untuk rumah, sebaiknya menggunakan atap genteng tanah liat atau keramik, karena bisa meredam suara dan panas. Tren yang berkembang belakangan, atap menggunakan beton, sehingga bisa ditanami pohon atau rumput (roof garden). “Hal ini boleh saja, tetapi sebaiknya pohon tidak ditanam tepat di atas master bed room,” saran Sidhi.
Menurut Sidhi Wiguna Teh, bentuk atap melengkung di tradisional Tionghoa sebenarnya tidak berpengaruh pada aliran energi. “Hal itu hanya berkenaan pada adat dan budaya,” kata pakar feng shui ini.
Pengaruh atap terhadap feng shui sebuah rumah, jelas Sidhi, lebih disebabkan bentuk dan proporsinya. Jika proporsi atap cukup dominan, maka pengaruhnya lebih besar.
Atap rumah yang paling bagus menurut kaidah feng shui adalah bentuk yang teratur dan rapi. Contohnya, bila atap rumah berbentuk limas, bentuknya tidak memiliki potongan—jika dilihat dari atas, berbentuk persegi panjang. Lebih ideal perbandingannya lebar dan panjangnya adalah 2:3. Bentuk denah rumah yang bagus, adalah persegi atau huruf “O” yang memiliki patio (ruang di dalam bangunan yang disisakan untuk kebutuhan pencahayaan dan sirkulasi udara-red) yang membuat cahaya matahari dan air hujan masuk ke dalam rumah. Sementara itu, atap rumah berbentuk lingkaran menurut feng shui tidak bagus, karena akan menyebabkan energi menjadi tidak terfokus dan terpecah.
Atap berbentuk seperti huruf “L” juga kurang ideal, karena ada missing sector, papar Sidhi. Untuk mengakalinya, atap bisa ditutup dengan talang beton keseluruhan, kemudian di atasnya dibuat atap yang tetap berbentuk persegi panjang. Konsekuensinya, luas atap lebih sempit.
“Atap juga bisa lebih mengoptimalkan komposisi energi rumah. Salah satunya dengan meninggikan atap pada lokasi ‘empat kotak bagus’—yang dihitung berdasarkan kua,” jelas Sidhi.
Sebaliknya, jika bentuk atap tidak baik dan kurang proporsional, akan memberi efek negatif terhadap penghuni rumah. “Saya pernah melihat sebuah rumah dengan atap yang ditembus pohon. Hal ini tentu membawa kesialan bagi penghuni rumah,” tutur pendiri Indonesia Feng Shui Architect ini.
Sudut kemiringan atap juga tidak boleh terlalu runcing atau terlalu landai. “Sudut kemiringan yang ideal adalah sekitar 30 derajat—sementara arsitek biasanya membuat sudut kemiringan antara 22,5 – 30 derajat,” kata Sidhi.
Sidhi melanjutkan, pemilihan bahan untuk atap, tergantung pada fungsi bangunan. Untuk rumah, sebaiknya menggunakan atap genteng tanah liat atau keramik, karena bisa meredam suara dan panas. Tren yang berkembang belakangan, atap menggunakan beton, sehingga bisa ditanami pohon atau rumput (roof garden). “Hal ini boleh saja, tetapi sebaiknya pohon tidak ditanam tepat di atas master bed room,” saran Sidhi.
Kelebihan dan Kekurangan Bisnis Rumah Kos
Bisnis rumah sering dianggap bisnis yang empuk untuk dicicipi. Pasalnya,
hanya dengan modal rumah tempat kita tinggal, bisnis ini sudah bisa
dijalankan. Hasilnya, sudah barang tentu menggiurkan.
Berikut ini kelebihan dan kekurangan binis rumah kos yang dikutip dari buku ‘Menjadi Kaya Melalui Properti’ tulisan Panangian Simanungkalit:
Kelebihan
Pertama, tingkat permintaan (demand) terhadap rumah kos tergolong tinggi, apalagi di kawasan-kawasan yang berdekatan dengan kampus, pusat belanja, perkantoran, atau retail center.
Mahasiswa umumnya memilih tinggal di dekat kampus, dan rumah kos adalah pilihan utama, karena harga sewanya lebih murah. Di sisi lain, karyawan atau penjaga toko yang bekerja di pusat belanja tatau perkantoran juga merupakan pangsa utama rumah kos.
Kedua, capital gain rumah kos dapat diperoleh dalam jangka panjang (lebih dari lima tahun). Dibanding investasi tanah kosong dan rumah sewa, capital gain rumah kos rata-rata lebih tinggi.
Ketiga, rumah kos memiliki capital rate (Cap-rate) 5% - 7%. Dibandingkan dengan rumah sewa, Cap Rate rumah kos memang lebih tinggi. Pasalnya, rumah kos mesti memberikan servis bagi penghuninya, seperti jasa tukang cuci dan setrika, atau manajemen yang membatasi waktu kunjungan (biasanya terjadi di rumah kos khusus wanita).
Kekurangan
Pertama, pemilik rumah harus menyiapkan manajemen yang membuat peraturan dan melayani kebutuhan para penyewa, mulai dari mencuci pakaian, menyetrika, memasak, sampai mengatur jam kunjungan. Semua itu memerlukan perhatian lebih dari pemilik. Terkadang pemilik rumah kos juga harus menyewa orang yang secara khusus bertugas melayani dan mengawasi para penyewa.
Kedua, pembayaran kadang tersendat. Hal ini kerap terjadi, karena umumnya penyewa rumah kos adalah mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri atau pegawai toko yang bergaji tidak terlalu besar.
Ketiga, rumah kos tidak lagi diminati jika kampus atau pusat belanja yang berada di dekat lokasi tersebut pindah atau tutup. Akan tetapi hal ini jarang sekali terjadi, sehingga berinvestasi rumah kos tetap menjadi pilihan yang cukup aman.
Berikut ini kelebihan dan kekurangan binis rumah kos yang dikutip dari buku ‘Menjadi Kaya Melalui Properti’ tulisan Panangian Simanungkalit:
Kelebihan
Pertama, tingkat permintaan (demand) terhadap rumah kos tergolong tinggi, apalagi di kawasan-kawasan yang berdekatan dengan kampus, pusat belanja, perkantoran, atau retail center.
Mahasiswa umumnya memilih tinggal di dekat kampus, dan rumah kos adalah pilihan utama, karena harga sewanya lebih murah. Di sisi lain, karyawan atau penjaga toko yang bekerja di pusat belanja tatau perkantoran juga merupakan pangsa utama rumah kos.
Kedua, capital gain rumah kos dapat diperoleh dalam jangka panjang (lebih dari lima tahun). Dibanding investasi tanah kosong dan rumah sewa, capital gain rumah kos rata-rata lebih tinggi.
Ketiga, rumah kos memiliki capital rate (Cap-rate) 5% - 7%. Dibandingkan dengan rumah sewa, Cap Rate rumah kos memang lebih tinggi. Pasalnya, rumah kos mesti memberikan servis bagi penghuninya, seperti jasa tukang cuci dan setrika, atau manajemen yang membatasi waktu kunjungan (biasanya terjadi di rumah kos khusus wanita).
Kekurangan
Pertama, pemilik rumah harus menyiapkan manajemen yang membuat peraturan dan melayani kebutuhan para penyewa, mulai dari mencuci pakaian, menyetrika, memasak, sampai mengatur jam kunjungan. Semua itu memerlukan perhatian lebih dari pemilik. Terkadang pemilik rumah kos juga harus menyewa orang yang secara khusus bertugas melayani dan mengawasi para penyewa.
Kedua, pembayaran kadang tersendat. Hal ini kerap terjadi, karena umumnya penyewa rumah kos adalah mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri atau pegawai toko yang bergaji tidak terlalu besar.
Ketiga, rumah kos tidak lagi diminati jika kampus atau pusat belanja yang berada di dekat lokasi tersebut pindah atau tutup. Akan tetapi hal ini jarang sekali terjadi, sehingga berinvestasi rumah kos tetap menjadi pilihan yang cukup aman.
Memilih dan Menempatkan Sofa di Hunian Kecil
Untuk rumah mungil, penempatan dan pemilihan sofa mesti diperhatikan. Jika ingin sofa tampil menarik, sebaiknya sesuaikan desain sofa dengan interior. Jika ruang tamu berdesain minimalis, pilihlah sofa minimalis pula. Hal ini akan memberi kesan lapang kendati ruangan berukuran kecil.
Untuk ruang tamu, penempatan sofa sebaiknya menggabungkan sofa berbentuk persegi empat dengan sofa berbentuk huruf L (tergantung ketersediaan ruang). Pilihlah sofa dengan pelapis terbuat dari kulit atau kain yang polos, tanpa motif atau corak. Jika ingin sofa dengan motif, pilihlah motif geometris.
Sementara itu, sofa di ruang keluarga harus nyaman dan bentuknya terkesan lebih santai. Dengan demikian, pengguna dapat memilih posisi sesuai dengan keinginannya — baik duduk maupun merebahkan diri. Berbeda dengan ruang tamu, sofa di ruang keluarga sebaiknya berlapis kain berwarna-warni dengan corak yang beragam, agar menimbulkan suasana akrab dan hangat.
Untuk mempermanis tampilan sofa, Anda dapat melengkapinya dengan bantal-bantal berwarna cerah yang disusun berjajar. Selain menambah kenyamanan, warna bantal yang kontras juga dapat menjadi aksen yang membuat ruangan terasa makin dinamis.
Langganan:
Postingan (Atom)

