MDF
dibuat dari batang kayu terutama bagian cabang (diameter kecil) atau
jenis kayu yang tidak memiliki nilai kekuatan tinggi yang dicampur
dengan bahan pengikat sehingga menjadi lembaran-lembaran papan. Proses
produksi yang melalui begitu banyak langkah kerja menghasilkan beberapa
hal yang bisa menimbulkan resiko bagi kesehatan kita sebagai 'end user'
maupun sebagai produsen.
Debu
Pada setiap lembar MDF yang anda terima dari gudang distribusi anda bisa
temukan lapisan tipis debu pada permukaan MDf. Debu tersebut sangat
kecil ukuran partikelnya dan berpotensi menimbulkan asma terutama bagi
pekerja di area produksi (pembelahan, pemotongan, amplas dan lainnya).
Atau pada furniture kantor, meja komputer dan kabinet TV yang baru saja
anda beli, akan bisa ditemukan lapisan debu yang tipis (terutama pada
bagian bawah). Resiko ini lebih besar akan berhubungan langsung dengan
pekerja pabrik furniture. Oleh karena itu penting untuk diketahui dan
dimengerti untuk senantiasa menggunakan jenis masker yang tepat bagi
karyawan yang bekerja di area produksi.
Formaldehyde
Pada dasarnya, produksi papan buatan menggunakan lem yang dibuat dari
resin Formaldehyde untuk merekatkan partikel kayu dan debu menjadi
lembaran papan. Bahan Kimia Formaldehyde dikenal bisa menyebabkan
iritasi mata, hidung, tenggorokan dan bahkan paru-paru walaupun hanya
pada level kontak yang rendah.
Menurut IARC (International Agency for Research on Cancer), sebuah sub
organisasi dari WHO (World health Organization) menemukan bahwa debu
kayu merupakan 'carcinogen'(penyebab kanker) dan Formaldehyde juga
disebutkan adanya kemungkinan yang sama pada level carcinogen 3, yang
berarti memiliki potensi untuk menjadi penyebab kanker, sehingga pada
pemakaiannya harus diberikan pengganti apabila memungkinkan atau
mengurangi pemakaiannya sekecil mungkin.
Bagi konsumen pemakai, apabila anda baru saja
membeli sebuah set furniture almari atau meja kerja yang terbuat dari
lembaran papan MDF atau partikel board lainnya, aroma khas akan keluar
dari furniture anda dan kadang-kadang akan terasa pedih di mata apabila
kita terlalu dekat terutama ketika membuka pintu. Itulah sebabnya
sebaiknya apabila baru saja membeli almari yang terbuat dari bahan papan
buatan, sebaiknya biarkan pintu-pintunya terbuka selama beberapa hari
sebelum digunakan.
Standar Amerika dan Australia membatasi emisi Formaldehyde pada MDF
maksimum 0.3 ppm (parts per million). Di jerman dan beberapa negara
Skandinavia justru memberikan batas lebih rendah yaitu 0.1 ppm.
Pengukuran kadar emisi Formaldehyde ini bisa diketahui melalui
pemeriksaan laboratorium dengan metode khusus.
Tindakan Preventif
Pemilik perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesehatan
dan keselamatan kerja bagi karyawan. Satu langkah yang bisa diambil
adalah dengan 'hanya' menggunakan MDF E1 (low emission), yang berarti
memiliki kandungan di bawah batas maksimum apabila memungkinkan.
Beberapa produsen MDF saat ini juga telah mulai mempromosikan jenis MDF
E1 yang sesuai dengan standar internasional.
Bagi produsen:
Debu dari proses MDF tidak mungkin dihindari, oleh karena itu untuk mengeliminasi resiko,
1. Ventilasi udara yang baik di dalam ruang produksi akan sangat berguna.
Exhaust harus bekerja dengan baik agar bisa dipastikan ruang produksi selalu bebas dari debu MDF.
2. Para karyawan yang bekerja juga harus selalu membersihkan tempat kerja agar bebas dari debu.
3. Manajemen harus menyediakan masker dan sarung tangan untuk
menghindari kontak langsung dengan kulit, karena Formaldehyde bisa
mengakibatkan iritasi kulit.
4. Karyawan harus selalu menggunakannya pada saat bekerja dengan MDF.
5. Melapis permukaan MDF dengan bahan finishing walaupun hanya dengan lapisan dasar.
Bagi Konsumen:
1. Biarkan pintu dan laci pada furniture yang baru saja beli terbuka
tanpa digunakan selama beberapa hari atau minggu untuk 'melepaskan'
kandungan Formaldehyde dari bahan papan buatan.
2. Tanyakan kepada penjual furniture tentang jenis MDF yang mereka
gunakan. Untuk furniture menggunakan jenis E1 pasti lebih mahal.