Dalam arsitektur sebuah rumah, atap memiliki peran penting untuk menjaga
rumah dari terpaan panas dan hujan. Dalam kaidah budaya, setiap suku
memiliki bentuk atap rumah yang khas, seperti atap melengkung di rumah
tradisional Tionghoa atau atap khas rumah joglo.
Menurut Sidhi
Wiguna Teh, bentuk atap melengkung di tradisional Tionghoa sebenarnya
tidak berpengaruh pada aliran energi. “Hal itu hanya berkenaan pada adat
dan budaya,” kata pakar feng shui ini.
Pengaruh atap terhadap
feng shui sebuah rumah, jelas Sidhi, lebih disebabkan bentuk dan
proporsinya. Jika proporsi atap cukup dominan, maka pengaruhnya lebih
besar.
Atap rumah yang paling bagus menurut kaidah feng shui
adalah bentuk yang teratur dan rapi. Contohnya, bila atap rumah
berbentuk limas, bentuknya tidak memiliki potongan—jika dilihat dari
atas, berbentuk persegi panjang. Lebih ideal perbandingannya lebar dan
panjangnya adalah 2:3. Bentuk denah rumah yang bagus, adalah persegi
atau huruf “O” yang memiliki patio (ruang di dalam bangunan yang
disisakan untuk kebutuhan pencahayaan dan sirkulasi udara-red) yang
membuat cahaya matahari dan air hujan masuk ke dalam rumah. Sementara
itu, atap rumah berbentuk lingkaran menurut feng shui tidak bagus,
karena akan menyebabkan energi menjadi tidak terfokus dan terpecah.
Atap
berbentuk seperti huruf “L” juga kurang ideal, karena ada missing
sector, papar Sidhi. Untuk mengakalinya, atap bisa ditutup dengan talang
beton keseluruhan, kemudian di atasnya dibuat atap yang tetap berbentuk
persegi panjang. Konsekuensinya, luas atap lebih sempit.
“Atap
juga bisa lebih mengoptimalkan komposisi energi rumah. Salah satunya
dengan meninggikan atap pada lokasi ‘empat kotak bagus’—yang dihitung
berdasarkan kua,” jelas Sidhi.
Sebaliknya, jika bentuk atap tidak
baik dan kurang proporsional, akan memberi efek negatif terhadap
penghuni rumah. “Saya pernah melihat sebuah rumah dengan atap yang
ditembus pohon. Hal ini tentu membawa kesialan bagi penghuni rumah,”
tutur pendiri Indonesia Feng Shui Architect ini.
Sudut
kemiringan atap juga tidak boleh terlalu runcing atau terlalu landai.
“Sudut kemiringan yang ideal adalah sekitar 30 derajat—sementara arsitek
biasanya membuat sudut kemiringan antara 22,5 – 30 derajat,” kata
Sidhi.
Sidhi melanjutkan, pemilihan bahan untuk atap, tergantung
pada fungsi bangunan. Untuk rumah, sebaiknya menggunakan atap genteng
tanah liat atau keramik, karena bisa meredam suara dan panas. Tren yang
berkembang belakangan, atap menggunakan beton, sehingga bisa ditanami
pohon atau rumput (roof garden). “Hal ini boleh saja, tetapi sebaiknya
pohon tidak ditanam tepat di atas master bed room,” saran Sidhi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar